I just want to pause whatever I am doing for one minute, everyday, and remember death! It will happen to me and all of us one day, I ask myself am I ready to meet my Lord, Allah, the Almighty? What have I prepared and sent forth?
Tampilkan postingan dengan label Ragil's Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ragil's Story. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Agustus 2013

RAGIL: AKU, BAPAK DAN JANJI KITA

Bapak,
Masih ingatkah Bapak dengan janji kita yang selalu kita bincangkan di sore-sore kita?
Tentang harapan-harapan kita yang kita bagi saat kita bersama menikmati senja?
Tentang cerita-cerita yang akan kita tuliskan dikala malam-malam menyelimuti raga kita?
Tak perlu Bapak jawab, karena aku tahu Bapak jelas mengingatnya. Sejelas ingatanku. Iya kan??? :)

Pak, tak pernah aku lupa semua itu. Aku simpan dalam hati. Aku jaga baik-baik hingga saat itu datang. Tak ada yang mudah di dunia ini, begitu pun dalam menggapai mimpi-mimpi kita. Tapi tak usahlah Bapak khawatir. Aku kuat dan aku sanggup karena cinta dan kepercayaan Bapak selalu menguatkanku. Karena Bapak ada disini, di hati ku…

Bapak, saat itu akan segera tiba. Dan kita akan bertemu kembali dengan senyum di masing-masing bibir kita. Dengan kehangataan di mata kita dan rindu yang membuncah di hati kita. Saat itu akan datang. Menyambut kita yang datang dengan membawa janji kita masing-masing.

Saat itu akan segera datang. Dan aku menunggumu disana…

Dengan rindu yang membuncah, Ragil

*catatan menjelang wisuda

RAGIL: DOA MALAM UNTUK IBU

Do’a malam untuk Ibuku…

Ya Allah…
Berikanlah kesehatan, kebahagiaan, ketenangan jiwa, kesejahteraan dan keberkahan hidup
Untuk wanita yang telah rela berbagi nutrisi dengan ku dan membawa semua beban nyawa dan raga ketika mengandung ku…
Yang pertaruhkan nyawa saat melahirkan ku…
Yang tak terhitung tetes keringat dan air matanya ketika memeliharaku…
Yang tak pernah berhenti memberikan segala yang dimiliki meski aku telah dewasa…
Yang tak pernah sanggup aku membalas segala keikhlasan yang telah diberikannya kepadaku…

Ya Allah…
Jagalah ibuku seperti yang telah dia lakukan selama ini kepadaku
Karena Engkau lah sebaik-baiknya penjaga

Ya Allah…
Tuntunlah Ibuku di jalan menuju ke surga mu
Dan siapkanlah satu tempat di pojok surga untuknya kelak…

Ya Allah…
Jagalah lisan ini agar tak lagi ku menyakiti hatinya
Jagalah hati ini untuk tetap menyimpan cinta untuknya
Dan jagalah raga ini agar ku bisa membuatnya bahagia
Semampu yang aku bisa…

Aamiin…

I love you Bu… meski tak pernah kuucap sekalipun!

RAGIL: AKU dan CITA

Siapa yang menyangka bahwa seorang Ragil Handoko akan menjadi seorang guru? Tidak ada kurasa. Ragil yang serampangan, yang ceroboh, yang tak sekalipun menyukai kegiatan mengajar menjadi seorang guru adalah mimpi yang tidak pernah ada di dalam daftar mimpi keluarganya. Keinginan Ragil bukanlah menjadi guru.  Ragil adalah sosok gadis yang selalu ingin berpetualang. Pergi ke tempat-tempat baru, menyelami budaya dan kebiasaan masyarakatnya. Ragil tidak pernah tahan bekerja dan menghadapi orang banyak. Dia lebih mencintai pekerjaan yang berkutat dengan benda-benda. Tanpa perlu berhadapan dengan manusia.

Itulah Ragil yang dikenal oleh Ragil. Aku Ragil dan aku mengajar diawali oleh keterpaksaan, hanya karena merasa bertanggung-jawab. Aku dulunya memilih bekerja sebagai admin di sebuah lembaga bimbingan belajar. Disana aku bertemu dan bergaul dengan orang-orang yang berprofesi sebagai guru. Seperti Bapakku dulu. Pimpinan LBB tempatku bekerja sepertinya melihat ku memiliki jiwa mengajar (padahal aku merasa tidak bisa mengajar, sungguh! >_<). Setiap kali aku ditawari untuk mengajar, selalu kutolak  dengan alasan tak siap mengajar. Karena penolakanku yang terus menerus, akhirnya pimpinanku tak lagi menawari ku mengajar. Leganya… Syukurku waktu itu.

Siapa sangka ternyata pada pertemuan LBB berikutnya aku mendapatkan “surprise”! Ketika pimpinanku mengakhiri materi pembekalannya, beliau memaparkan kelas dan penanggung-jawabnya. “Ragil, kamu nanti mengajar dan bertanggung jawab di kelas K1 ya”, lebih serupa perintah daripada penawaran. “K1 kan T…K.. , Pak..” ucapku masih dengan ekspresi takjub, shock, tak percaya, takut, dan kawan-kawannya. “Iya, karena kamu baru maka dikasih kelas  yang paling muda”, urai beliau. Sedangkan di ruangan sudah penuh sorak-sorai, “Selamat ya Gil!!!”, “Akhirnya Ragil jadi guru juga”, “Semangat ya Gil!” dan ucapan lain yang membuatku semakin terpana. “Terus bagaimana saya mengajarnya? Awalnya apa? Terus dikasih materi apa? Aku kan belum berpengalaman, Pak T_T”, seperti orang bego aku menanyakan sesuatu yang sebenarnya secara teori sudah aku pahami. Aku memahami secara teori karena aku kuliah di jurusan pendidikan dan gilanya aku tidak ingin menjadi guru! Ironis. “Lah ini adalah jalan buat kamu biar memiliki pengalaman. Kami berusaha menngembalikanmu ke jalan yang benar Ragil”, jelas beliau lagi. Mengembalikanku ke jalan yang benar…jadi selama ini aku dianggap tersesat! Huaaaa!!! Mereka semua gilaaaaa!!! MAsak aku dianggap tersesat! Aku merutuk dan terus berpikir dan berpikir sampai rumah.

Itulah awal mulanya aku mengajar. Diawali dengan mengajar anak TK yang, subhanallah, diantara kelucuan mereka tersimpan energi yang begitu berlimpah membuat ku kadang berfikir, ini aku sudah terlalu tua atau aku yang masih seperti anak kecil ya… Kemudian mengajar anak SD yang mulai sering protes atas perilaku gurunya… Mengajar SMA yang siswa nya lebih menganggap gurunya lebih seperti teman dan akhirnya sering kebablasan hingga tak menghormat  gurunya. Dan akhirnya mengajar SMP yang siswa-siswa nya sedang dalam pencarian jati diri, pengakuan masyarakat dan keluarganya. Sungguh senuah perjalanan yang penuh makna.

Bersama mereka, aku mulai banyak belajar. Belajar mengerti dan memahami karakter orang lain, belajar bertenggang rasa, belajar berbagi, belajar bercerita. Mereka terkadang berbuat ulah tetapi itulah dunia mereka. Mencoba menggali segala kemungkinan, mencoba segala hal yang baru. Mereka yang selalu membuat ku rindu sekolah, rindu mengajar. Mereka membuat ku bertahan saat kondisi terlelah ku… Mereka yang mampu membuat Ragil bertahan sebagai guru.. Thanks a lot dears…

RAGIL: IBU DAN SUARANYA

“Engkau adalah puisi abadiku… yang tak mungkin kutemukan dalam buku…”
- Abdurahman Faiz -

Puisi Faiz diatas akan menjadi awalan ceritaku tentang Ibuk. Sudah banyak cerita indah tentang Ibuk. Bahkan juga cerita kelam tentang Ibuk. Bukan aku ingin meniru mereka semua dengan cerita Ibuk. Aku hanya ingin berbagi tentang Ibuk. Sosok penting dalam keluarga selain Ayah. Pilar kehidupan lain dalam sebuah  rumah tangga.

“Ragiiiiiillllll!!!!” itu suara Ibuk yang selalu membangunkanku tiap pagi. Bukan belaian lembut dan suara merdu. Hanya teriakan yang memekakkan telinga sejujurnya.  Ibuk yang sudah berkutat dengan segala perlatan dapur dan bahan masakan selepas selalu memanggilku dengan suara berintonasi tinggi. Dari dapur! Ingat! Memanggil dari dapur. Mencoba membangunkan anak gadis satu-satunya yang terkenal malas bangun pagi.

Aku, tentu saja masih berusaha menoleransi jam bangunku. “Ah…5 menit lagi aja…” bisik setan di telingaku yang ku jawab dengan anggukan kepala dan gerakan menarik selimut dan guling. Beberapa menit berselang… “RAGIIIIIIIIILLLL!!!” ah itu suara Ibuk lagi. Sudah harus bangun nih. Ibuk yaaa nggak bisa apa ya bangunin aku dengan suara yang lembut, dielus kek atau digoyang pelan gituh kayak di TV, rutukku dalam hati  seraya berjalan ke kamar mandi.

Tapi tahukah kalian bahwa intonasi dan nada suara Ibuk adalah sesuatu  selalu akan kurindukan kala Ibuk tak ada. Kenapa? Karena itu suara  Ibukku! Setiap Ibuk itu berbeda. Ibuk ku tak sama dengan ibu, mama, mami, bunda, atau emak orang lain. Ibuk ku belum tentu bisa merendahkan intonasi suaranya seperti ibu-ibu yang lain. Belum tentu bisa bersikap lembut dan mengungkapkan ekspresi cintanya dengan memeluk erat anaknya. Ibu-ibu yang lain pun belum tentu bisa “berteriak” seperti Ibukku kan… Belum tentu bisa menjaga ku dan merawatku hingga seperti saat ini.

Apapun dan bagaimanapun karakter ibu kita yakinlah bahwa apa yang mereka lakukan adalah ekspresi cinta mereka kepada anak-anaknya. Bahwa ditiap hati seorang ibu ada rasa cinta dan kasih sayang yang tak bisa terhapuskan. Entah rasa yang terlalu besar hingga menjadikan ibu kita super atau bahkan over protective dan melarang kita ini-itu. Atau rasa yang tak terlalu besar yang tak bisa pula terungkapkan hingga sering membuat anak berfikir bahwa ibu mereka tak menyayangi mereka.

Aku yakin Ibuk menyayangi aku dengan cara yang Ibuk tahu, dengan teriakan-teriakan dan tingkat kecerewetan yang tinggi. Begitu pula aku yang hanya mampu menyayangi Ibuk dalam diam…

RAGIL: BAPAK dan AKU

Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Disisimu terngiang hangat napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu


“Ragil, Bapak berangkat dulu ya…”, pamitnya ketika aku  sedang asik bermain di tetangga sebelah. Aku segera menggamit tangan Bapak dan menciumnya. Tapi aku tak melepaskan tanggan Bapak, aku menatapnya.

“Pak, aku kok nggak sekolah? Itu Mbak Dee sekolah,” aku menunjuk ke arah teman main ku yang tinggal di seberang rumah.

Bapak dengan kalem menjawab, “Ragil main aja dulu sepuasnya, nanti kalau sudah puas baru Ragil sekolah.” Bapak membelai kepalaku sayang seraya mengucapkan kalimat tadi. Lalu mencium keningku dan menyuruhku kembali bermain. Bapak tak pernah menjelaskan padaku bahwa Bapak telah mempersiapkanku untuk menjadi yang terbaik. Bapak lalu menaiki motornya dan menyalakannya. Dan tak pernah lupa, Bapak selalu melambaikan tangannya dan tersenyum sebelum melaju bersama motor vespa kesayangannya. Aku? Aku kembali asik bermain di tetangga ku.

Bapak begitu mencintai dan memanjakanku. Setidaknya itu yang dikatakan oleh orang-orang disekitar kita. Dan aku pun merasakannya. Bapak selalu menuruti apa yang aku minta. Meski kadang tertunda, tetapi selalu dipenuhinya. Bapak tak pernah pergi sendirian, selalu denganku. Tanpa ibuk. Inilah yang kadang membuat ibuk cemburu. Bapak lebih memilih mengajakku daripada Ibuk untuk urusan jalan-jalan. Bapak tak pernah meninggalkanku, bahkan ketika bekerja pun, saat ada waktu luang dan tidak terlalu banyak pekerjaan Bapak pasti mengajakku. Oh ya, Bapak adalah seorang guru SD di pelosok desa. Sekolah Bapak saat itu cukup  jauh dari rumah, kurang lebih 15km.

Bapak adalah lelaki paling hangat dan tenang yang aku kenal (secara aku kan masih kecil dan belum kenal siapa-siapa!). Bapak selalu melindungiku, bahkan dari sekedar gigitan nyamuk. Tahukah kalian bahwa Bapak lah yang selalu mengantarkan, bahkan menemaniku tidur. Ketika ada nyamuk yang menggigit bagian tubuhku maka Bapaklah yang akan menggosok bagian tubuh, entah kaki atau  tanganku, sampai aku tak merasa gatal dan tertidur. Gosokan dan belaiannya lah yang nantinya akan selalu kurindukan.

Kau inginku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu jauhkan godaan
Yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak

“Pak,  aku boleh nggak ikut beladiri? Aku besok sabtu ada latihan perdana di kota dan harus menginap disana…” ucapku dari atas sepeda sepulang dari mengaji.

“Nggak usah ikut! Lagian perempuan kok ikut silat segala, pakai menginap lagi!” sahut ibuk sengit yang memang dari dulu tidak pernah setuju aku bergabung di ekstra beladiri. Tapi sekali lagi, Bapak lah yang memberikanku izin. “Ikut aja kalau memang Ragil suka. Hitung-hitung buat jaga diri dan olahraga. Bapak  dulu waktu muda juga pernah ikut beladiri kok. Malah Bapak dulu sempat jadi ketuanya loh,” cerita Bapak waktu itu. Dan kini pun, saat akuminta izin Bapak pula yang mengizinkan, “Ya sudah, berangkat saja,” sahut Bapak padakku. “Sudah sana masuk terus ganti baju.” Saat aku melangkahkan kaki ke rumah, kudengar Bapak bicara pada Ibuk, “sudah, biarkan saja dia, selagi masih ada kesempatan. Biar dia berkembang dan punya banyak  teman.” Aku tersenyum dalam langkahku. Yes!!!  Bapak memang yang paling mengerti aku.

Begitulah Bapak.  Bapak selalu mendukungku, apapun itu kecuali hal-hal yang tidak berguna. Mungkin cenderung over protective yang wajar mengingat aku satu-satunya anak perempuannya dan anak terakhir pula. Pernah aku sedikit ngambek ketika aku minta izin buat ikut tetanggaku ke Surabaya dan tidak disetujui. Aku kecewa dengan Bapak waktu itu. Aku merasa Bapak tak sayang lagi padaku. Tetapi pelan-pelan Bapak menjelaskan alasannya. Bapak bilang, “buat apa ke Surabaya kalo cuman sekedar jalan-jalan tak tentu. Malah capek nanti. Mending di rumah saja sama Bapak, nanti kita beli es krim”. Dan Bapak selalu berhasil meluluhkan hatiku.


Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuh maumu

“Pak, lihat deh orang yang ada di TV itu. Ganteng deh. Dia pakai jas dan dasi. Terlihat begitu gagah…” celotehku ketika kami menonton acara di TV sore itu. Bapakku hanya diam dan tersenyum. “Pak, aku pengen deh lihat Bapak pakai pakaian seperti lelaki itu. Bapak pasti ganteng dan gagah. Bapak mau nggak?” lanjutku. Bapak mengalihkan pandangannya, lalu melingkarkan tangannya di pundakku. “Ehmmm, mau. Tapi nggak sekarang ya…”, ucapnya lalu mencium keningku. Kenyamanan yang sangat aku nikmati. “Terus kapan?”, kejarku. “Nanti, kalau kakak-kakakmu menikah atau kelak ketika Ragil lulus kuliah dan diwisuda. Bapak pasti akan pakai pakaian seperti yang dipakai orang itu”, telunjuk Bapak mengarah ke TV.

Waktu itu aku menghitung, berapa tahun lagi aku bisa melihat Bapak ku dengan pakaian yang terlihat gagah. Aku akan kuliah dan lulus lalu wisuda. Aku tersenyum dan berangan-angan waktu itu.  Ah…tepatnya bermimpi dan mulai merencanakan masa depanku. Demi Bapak dan senyumnya yang menenangkan.

Tahun lalu, mataku memanas ketika aku ada di dalam bangsal bersama ratusan wisudawan yang lain. Aku mengingatnya… mengingat Bapakku… Aku berusaha sekuat tenaga untuk tak menangis, aku tak ingin membuat ibuk dan kakakku menangis juga. Tapi tetap, satu dua tetes air itu mendesak keluar. Aku menggenggam erat tangan ibuk dan kakakku yang berdiri disamping kanan kiriku. Melangkah beriringan menuju podium menerima penghargaan Lulusan Terbaik dari para petinggi universitas ku. Puluhan mata memandang ku, dan pandanganku mengabur. Air ini sungguh menganggu! Aku kan ingin terlihat bagus di depan orang banyak! Ah siaaaall!! Umpatku. Tapi aku toh tetap saja membiarkannya menghalangi pandanganku. Aku kangen Bapak. Pak…lihat! Aku penuhi janjiku. Aku wisuda sekarang. Bapak dimana? Katanya mau datang dan memakai pakaian orang kaya itu? Mana? Kan Bapaak udah janji… Aku mau lihat Bapak. Aku kangen Bapak. Aku telan semua kata-kata itu dalam hati saja. Aku tetap  tersenyum. Dan aku tahu Bapak disana tersenyum, dengan pakaian itu. Memandaangku dan mengirimkan ketenangan yang kurindukan.

Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Ku rindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati


Sekarang, ketika aku sudah mampu berdiri sendiri di atas kaki ku, aku masih sangat jelas mengingat kenangan sekecil apapun dengan Bapak. Meski hanya 14 tahun aku bersamanya, tetapi Bapak memahat memori yang begitu indah. Tentang mimpi-mimpi dan keinginannya. Tentang janji-janji kita. Tentang cinta dan hidup kita.

Bapak mengajarkanku banyak hal. Bapak tak pernah ingkar. Bapak hanya tak mungkin menolak takdir. Bapak yang tenang. Bapak yang hangat. Bapak yang penyayang. Bapak yang….akan selalu aku cinta.