I just want to pause whatever I am doing for one minute, everyday, and remember death! It will happen to me and all of us one day, I ask myself am I ready to meet my Lord, Allah, the Almighty? What have I prepared and sent forth?

Minggu, 08 Desember 2013

SEPENGGAL KISAH METHA



Sebutlah Metha, gadis manis yang selalu tersenyum. Apapun yang sedang dia rasakan, dia selalu ingin menampilkan "I'm fine and I'm happy". Gadis yang hobi sekali pulang malam karena kalau pulang pagi nanti pasti keluar lagi buat jalan-jalan! Tinggal di sebuah rumah dengan 2 orang lelaki dan 1 orang perempuan.
Selain Metha, ada Ummay, seorang wanita yang juga selalu berusaha tersenyum dan selalu bisa menjadi pendengar yang baik buat Metha. Ummay lebih sering bercerita pada lembar kosong Microsoft Word. Menjadikannya berhias puisi dan cerita. Ummay sudah seperti ibu di rumah itu. Bangun pagi lalu menyeduh teh hangat untuk semua penghuni rumah. Seperti pagi ini, Ummay sudah ada di dapur memasak air panas untuk membuat teh. Sekaligus menyiapkan menu sarapan pagi buat semua penghuni.
Lelaki pertama yang keluar kamar pagi ini adalah Alan a.k.a Eko, (suka-suka mau memanggilnya siapa, dia passti akan menoleh) lelaki berbadan subur yang pendiam. Pendiam karena dia lebih suka tertawa. Tawanya begitu khas. Dia selalu tertawa dengan intonasi yang teratur, dg suara bass yang berat dan mantap "Hak..hak..hak..hak..". Dengarkan, maka kau akan teringat selamanya! XD
"Pagi, Kak. Minum dulu nih teh nya. Baru bangun?" sapa Ummay pagi itu.
"Hak..hak..hak.. Aku belum tidur May. Lanjutin baca JejakLangkah," jawab Alan. Ummay hanya bisa tersenyum. Alan memang sering tidur larut malam bahkan tak tidur. Begadang bersama Ryan menonton bola. Alan adalah fans berat Arsenal. Maka dia tak akan melewatkan pertandingan boal. Seperti tas merah Arsenal miliknya yang selalu ikut kemana pun dia pergi.
Tak lama, Ryan keluar kamar. Oh iya, Ryan adalah lelaki tambun asli Palembang yang suka meramaikan suasana. Ryan pandai sekali berbicara dengan logat Batak! Dia selalu bisa membuat Metha tertawa kadang kesal dengan kekonyolannya. Baik Alan maupun Ryan suka sekali joget-joget yang membuat mereka mirip sekali dengan karakter Bernard tambun kembar. He...he...he... (sumpah, tak ada yang tahu mana yang lebih berisi diantara mereka karena mereka tak pernah mau menaiki kotak dengan beberapa deret angka 0 - 1xx dan satu jarum yang mampu menampung beban 1 ton lebih!)
"Pagi, Um, Mas Eko. Mau jus pokat dong, Um." Dia suka jus alpukat. Tapi Ryan suka apa aja sih... He...he...he... Yang penting bisa dimakan dan diminum.
"Ga ada, Yaaaan. Udah minum aja nih teh nya. Aku mau nyiapin bihunnya Metha dulu. Bentar lagi dia mau berangkat" ucap Ummay sambil menyiapkan menu bihun dengan sambal kacang dan tempe goreng, menu sarapan wajib Metha.
"Jangan lupa, tambahin wortel ya, May" permintaan khusus dari Alan si pecinta wortel sejati. Ummay hanya menyatukan ujung telunjuk dan ibu jarinya tanda setuju.
"Ada menu lain gak Mi? Apa kita makan di restoran aja, Mi? Atau sewa koki gituh..." pinta Ryan dengan ekspresi muka menahan mual karena dia sudah bosan setengah eneg menikmati menu berbahan dasar bihun dan wortel! Ummay hanya menggeleng sambil tersenyum kalem. Ryan kembali menggelepar di lantai demi melihat gelengan Ummay. Sedang Alan hanya tertawa "hak...hak...hak..."
TOK....TOK...TOK....
"Assalamu'alaikum" terdengar salam dari pintu depan. Ryan buru-buru bangun dan menuju ruang depan untuk membuka pintu.
"Eh, maaf Mas. Tidak menerima sales!" seloroh Ryan begitu ia melihat siapa yang ada di balik pintu. Sedang orang yang berdiri di luar hanya tersenyum lalu dengam santainya masuk rumah dan duduk di kursi "biar kata sales, yang penting kan cintaku tulus Mas Yan..." jawab sih tamu santai.
"Heran deh sama kamu, Tuy. Gak bosen ya kesini tiap hari. Aku aja udah bosen liat kamu" balas Ryan ketus.
"Namanya juga usaha, Mas. Mumpung janur kuning belum melengkung." jawab Putuy tak kalah akal.
“Kalo udah melengkung mah bawa aja ke salon Tuy, di-rebonding pasti lurus lagi!” balas Ryan sekenanya sambil berjalan ke dapur. "Tha, ada penggemar beratmu tuh di depan".
"Putuy lagi ya Yan?" tanya Metha sambil menyantap bihunnya dengan lahap.
"Emang ada lagi yang ngefans sama kamu sampai kayak kamu ngefans sama bihun? Musti selalu dinikmati setiap hari" jawab Ryan asal.
"Yeeee emang Tha apaan bisa dinikmati... Tha itu cuman bisa dinikahin!" upsss... Metha keceplosan.
"Ciiyeeeee yang udah pengen nikaaaah..." sambar Ryan saat memperoleh celah untuk mem-bully. "Hak...hak...hak..." terdengar tawa dari sisi meja yang lain. Alan hanya tertawa melihat muka Metha yang memerah lalu kembali menikmati bihun goreng tabur wortelnya.
Metha buru-buru menyelesaikan sarapannya sebelum Ryan menggodanya lagi. "Ummay, Mas Eko aku berangkat dulu yaaaa... Assalamualaikum!" pamit Metha.
"Lah aku gak dipamitin Tha?" protes Ryan. Metha hanya meliriknya sekilas sambil menjulurkan lidahnya. Dan Ryan hanya menggerutu merasa tak dianggap.. "Bah! Udah kayak kekasih tak dianggap aja aku disini, disapa pun tidak!" keluh Ryan lebay.
Begitu melihat Putuy, Metha hanya tersenyum "Pagi amat Tuy… Aku berangkat dulu yaa... Tuh main aja sama Ryan." sapa Metha ramah meski cuman sekedar basa-basi.
"Bareng aku aja yuuuk..." tawar Putuy seperti biasanya. Dan seperti biasanya pula Metha akan menjawab, "Terima kasih. Transjakarta masih beroperasi kok..." dan Putuy hanya akan tersenyum kecut melihat Metha yang berlalu dihadapannya setelah tersenyum manis sekali.
"Sudaaaah... Yuuuk daripada nganggur tuh boncengan motor, mending anterin aku aja yuukk beli buku". Tiba-tiba saja Ryan sudah ada di belakang Putuy dan memaksanya untuk membonceng Ryan.
"Yaaa Tuhaaaan aku semalam mimpi naek motor dengan malaikat kenapa sekarang aku naek motor sama beruang maduuuu" jerit Putuy dalam hati dengan muka kusut yang tersiksa karena menahan beban motor dan orang yang duduk di boncengannya yang kini memeluknya erat dari belakang.
*******
"Assalamualaikum. Uuummm! Maaas Ekoooo! Ryaaaan! Mana sih orang2 ini" tak ada jawaban. Mungkin mereka sedang tidur. Metha langsung saja membuka pintu lalu berbaring di ranjang tanpa mengganti pakaiannya. Sudah sedikit terlelap ketika tiba-tiba ada yang menghantam lengannya dengan bantal. "Iiihhh apaan sih masuk kamar gak pake ketuk pintu dulu!" sungut Metha sambil mencoba duduk.
"Lah kan mesti aku yang kena padahal kan kamu yang masuk kamarku", Ryan hanya geleng-geleng kepala. Pasti setelah ini dia akan jawab ... "Ryaaaan...ini kan kaa....mar kamu" jawab Metha malu karena lagi-lagi dia menyadari kalo dia salah masuk kamar lagi. Dia lalu ngeloyor ke kamarnya saat Ryan berkata, "Tha, jangan salah kamar lagi yaaaa. Itu kamar kamu yang di ujung sebelah kanan!"
*******
Malam itu, saat mereka sedang makan malam, Ummay mencoba menanyakan perihal Putuy pada Metha. "Kamu ga kasihan sama Putuy? Tiap hari loh dia nyamperin kamu, tapi kamunya selalu milih naek TJ".
"Kasihan si Um. Tapi kan Tha sudah bilang sama Putuy kalo Tha gak mau pacaran dan gak usah kesini juga. Tapi si Tuy aja tuh yang terus-terusan datang", jelas Metha.
"Emang kenapa sih Tha gak mau pacaran? Enak lagi pacaran. Bisa telpon-telponan. Bisa saling merindu. Bisa kirim-kiriman puisi. Kalo malam minggu bisa nge-date kemana gituh. Kalo jomblo kan yang ditelpon paling temen. Itu juga bentar doang. Kalo ada yang lagi rindu cuman bisa bayangin sedang merindukan sesseorang tapi gak jelas orang siapa. Kalo malam minggu cuman duduk di rumah doang sambil baca buku ato nonton tv. Ngenes kan ya?" Metha, Ummay dan Alan saling melirik. Mereka paham sekali kalo Ryan sudah ngomong panjang kali lebar pasti itu curhat.
"Hak...hak...hak...hak... Jd kamu jomblo ngenes ya Yan? Sini aku peluk" kelakar Alan. “Aku sih enjoy aja! Hak…hak…hak…hak…”.
"Jadiiiii Ryan ga suka nih makan malam bareng di sini pas sabtu malam giniiii? Jadi sedih" sekarang giliran Ummay yang nyindir.
"Buat apa lagi Yan seneng di dunia tapi banyak maksiatnya. Mending ngenes dulu tapi nantinya bisa seneng-seneng dunia akhirat", jawab Metha dengan sangat bijak.
"Ah iyaaa... Makasih ya Thaaaa... Peluuuukk" Ryan berlari dan kemudian memeluk.....tembok. Mana berani Ryan memeluk Metha. Mau mampus dia! Ha...ha...ha...
******
Hari-hari selanjutnya masih dijalani seperti biasa. Dengan rutinitas yang biasa pula. Sarapan dengan menu seperti biasanya. Dengan sapa dan canda juga seperti biasanya. Pokoknya semua serba biasa deh. Tapi hari sabtu itu, ada yang tidak biasa. Metha terlihat begitu bahagia. Dia senyum terus sejak dia keluar kamar. Ada yang membuncah di hatinya. Ada rasa yang ingin dia bagi bersama orang-orang terdekatnya. Dia selama ini memang menyimpan rahasia itu hingga semuanya jelas. Dan sekarang semuanya memang jelas. Tanggal telah ditentukan. Dan dia ingin menyampaikannya pagi ini. Mumpung semua orang sedang libur. "Ummay, Mas Eko, Ryan... Tha mau bicara sesuatu boleh?" tanya Metha pagi itu.
"Yaelah Tha, ngomong aja kali. Kenapa? Masalah Putuy lagi?" sambar Ryan. "Eemmm gak kok. Ini masalah masa depan Tha." ucap Metha kalem.
"Sepertinya serius nih. Apa sih Tha?" kejar Ummay tak sabar. Sedang Alan masih hanya diam menunggu. Menunggu saat untuk tertawa lagi... Hak...hak...hak...
*******
Terdengar suara siulan dari salah satu kamar kos mewah. Si empunya suara sedang bahagia. Dia sedang mematut dirinya di depan kaca. Sepagian ini dia sudah mandi dan keramas. Biar wangi dan segar pikirnya. Dia juga sudah memilih pakaian terbaiknya. Menyetrikanya semalam lalu menggantungnya biar tak lecek. Dia ingin semuanya benar-benar rapi karena hari ini adalah hari yang spesial!
Setelah dia yakin penampilannya sudah sempurna. Dia membuka laci lemarinya. Disanalah tersimpan benda yang sangat istimewa yang tersimpan di sebuah kotak beludru hitam. Benda istimewa untuk orang yang istimewa pula. Dia tersenyum saat memandang isi kotak itu lagi sebelum memasukkannya kedalam sakunya.
Dia memandang lagi dirinya melalui cermin sebelum dia berangkat. "Sempurna" lalu dia beranjak menuju motornya. Siap memacunya menuju rumah gadis teristimewa dihatinya.
*******
"Thaaaa kok malah diem. Mau ngomong apa sih??? Bikin penasaran aja sih! Ryan tinggal ngepet nih!" sungut Ryan yang begitu penasaran. "Um, jagain lilinnya yaaa. Yuk Mas berangkat. Lumayan ntar hasilnya bisa buat beli permen!" lanjut Ryan ketika Tha tak juga mulai ngomong. "Iiiihhh sabar napa Yan. Ini masih nata hati tauk. Lagian maana ada ngepet pagi hari!" sembur Metha. "Bismillahirrohmanirrahim"
"Alhamdulillhirobbilalamiin. Arrohmanirrohiim" lanjut Ryan sekenanya. Ummay mencubitnya. Ryan meringis lalu kembali fokus menatap Metha sambil mengucap mantra, "ngomong Metha...ngomong Metha" (oke yang ini juga lebay!)
"Ryan iiiihhh...pengen kucubit pake tang deh pipi kamu! Oke. Tha mau dikhitbah minggu depan. Datang yaaaa ke Bogor. Tha ingin kalian semua ada disana" akhirnya keluar juga kalimat itu. Metha merasa begitu lega.
"Apa Tha? Dikhitan???? Serius kamu mau dikhitan? Sakit loh Thaaa" jawab Ryan oon karena shock. Seketika senyum Metha hilang. Ingin rasanya dia mengambil godam dan menghantamkannya ke tubuh Ryan yang tambun saking gemesnya. Ummay langsung mengambil langkah terbaik biar Ryan tidak tambah oon. "Dikhitbah Ryan. Dilamar. Bukan dikhitan. Selamaaat ya cantiiiikkkk. Siapa lelaki beruntung itu?" ucap Ummay sambil memeluk Metha. Sedang Alan tetep duduk di tempat semula tersenyum turut bahagia "hak...hak...hak...hak...selamat ya Tha. Sudah kuduga." Belum sempat Metha menanggapi mereka tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki.
"Tha... Lalu siapa dong Tha yang pake cincin ini?" tanpa ada yang tahu ternyata sejak tadi sudah ada Putuy yang berdiri mematung di pintu tengah. Dia hanya ingin memberi kejutan ketika dia mendengar kata "khitbah" yang dia tahu betul apa artinya. Shock! Pasti. “Aku bahkan butuh waktu lama sekali untuk memilih cincin yang pantas buatmu”. Suasana tiba-tiba hening, ada rasa yang tak nyaman saat itu.
"Eh ada Putuy. Duduk dulu sini Tuy, capek berdiri terus disitu". Alan merangkul Putuy, mengajaknya duduk. Tak tega Alan melihat muka si Putuy yang kusut meski penampilannya begitu necis. Dia juga mulai tak nyaman dengan rasa canggung yang tercipta.
"Ehem..” Metha mencoba memulai pembicaraan lagi. “Maaf ya Put. Akan ada jari yang lebih pantas memakai cincin pilihanmu itu. Dan jari manis itu bukan milik Tha. Maaf ya Put. Kamu lelaki baik. Tapi mungkin kita memang tidak berjodoh", kata Metha dengan sangat hati-hati. Mencoba tak menyakiti siapapun meski dia tahu sudah ada yang terluka.
"Iya. Tapi kan…." tak jadi Putuy melanjutkan kata-katanya. Lalu dia berdiri dan beranjak pergi. "Loh Putuy mau kemana?" tanya Ryan yang melihat Putuy keluar. Dia mengikuti Putuy. "Aku mau pulang dulu ya. Terima kasih. Assalamualaikum"
Ryan berjalan mengikuti Putuy. Saat Putuy hendak menaiki motornya, isengnya Ryan kambuh. "Put, sebenarnya ada jari yang pantas memakai cincinmu itu." Ada perubahan pada raut muka Putuy, sedikit berwarna. Berhasil sepertinya trik Ryan. Dia lalu melanjutkan, "Jari aku masih belum ada cincinnya. Sepertinya cincin itu pas disini" dengan sangat lembut Ryan mengulurkan jari kelingkingnya pada Putuy. Rona muka Putuy memang berubah. Jauh lebih berwarna. Warna merah karena merasa tertipu dengan ucapan Ryan. "Sompreeet lu Yan" sembur Putuy sambil menggeber motornya dan melaju dengan kecepatan cahaya. Ryan hanya menggedikkan bahunya, "Ya sudah kalo gak mau. Padahal cincin itu kan memang pas ditanganku" omelnya saat berjalan kembali masuk ke rumah lalu menutup pintunya.

Cerpen ini diikutkan dalam Lelang Buku Bayar Karya di grup WA Love Books a Lot ID.
Semua tokoh disini nyata dengan sedikit perubahan nama, namun kisahnya hanya fiksi semata. J

Rabu, 30 Oktober 2013

Surat Untuk Bapak

Bapaaakkk...apa kabar disana??? (membayangkan berlari  menyambut Bapak seperti waktu kecil dulu :') )
Semoga baik-baik saja ya... Aku kangen banget sama Bapak... *peluuuukkk...(meski sekedar bayangan!)*

Pak, apa  sesungguhnya yang kau rasakan disana? Sakitkah? Atau sepi? Apa yang kau lihat disana dan siapa saja yang telah kau temui disana? Bahagiakah Bapak disana? Seberapa rindukah kau kepadaku dan pada keluarga disini? Tapi satu hal yang pasti kuingin dan ku do'akan, semoga Bapak selalu tenang disana.


Pak, suatu saat ceritakanlah padaku apa yang kau rasakan disana. Biar disini aku bisa menyiapkan diriku sebaik mungkin. Biar ketika kelak aku menemuimu disana, aku bisa tersenyum dan dengan bangga mengatakan "Lihat, aku sudah  siap berada disini dan bersama bapakku karena Bapak telah membimbingku dan mempersiapkanku sebelumnya!"

Begitu banyak pertanyaan dibenakku yang ingin kuajukan pada Bapak. Begitu banyak pula cerita yang ingin kubagi pada Bapak. Pastilah cerita duka dan suka disini tanpamu. Bila kami bahagia, ingin rasanya aku ajak Bapak kembali lagi kesini bersama kami. Brcanda, bergurau, berbagi, jalan-jalan, bermain, tertawa dan termenung bersama. Kala duka yang menyapa, ingin sekali rasanya aku menghampirimu lalu memelukmu. Menumpahkan segala beban dan tangis ini di dadamu.

Bapak, seperti saat ini. Aku merindukanmu melebihi jagad raya ini. Aku rindu pelukanmu yang hangat, aku rindu tatapmu yang teduh, aku rindu belai dan ucapmu yang menenangkan. Aku rindu. Banyak tangisku yang tak tertumpahkkan, banyak cerita yang tak tercurahkan. Dan aku ingin sekali mencurahkan nya pada Bapak, seperti dulu, dibawah langit malam sambil menunggu bintang jatuh. Kalau tak ada bintang jatuh maka cukuplah bagi kita menikmati kerlip indah diatas sana sambil bercerita tentang mimpi-mimpi dan harapan kita.

Pak, ini tentang salah satu harapan Bapak yang  terpatri dalam di hati dan pikiranku semenjak engkau pergi. Harapan yang dulu kau tanamkan pada anak-anak lelakimu, yang ternyata tak mampu mewujudkannya hingga kau pergi. Dan kini sepertinya akupun tak mampu mewujudkannya meski aku telah berusaha.

Pak, mungkin usahaku kurang keras, maaf. Aku hanya inginkan yang bisa menerima tak hanya aku tapi juga orang-orang lain yang kau sayangi. Apa aku salah ketika aku ingin bahagia tak hanya bersama dia tapi juga bahagia bersama keluargaku? Apa aku salah ketika aku harus menolak dia yang tak membuat ku nyaman? Sungguh, aku tak berniat. Aku hanya ingin seperti harapan satu-satunya pintu surga yang tersisa untukku tanpa bermaksud mengesampingkan harapanmu, Pak. Ini pun berat bagiku, berat sekali.

Atau seperti saat ini, ketika aku merasakan hal yang berbeda pada seseorang, namun ternyata keadaan tak merestui kami. Lagi-lagi, semua demi pintu surgaku, wanita yang kau cintai. Tak ingin aku meninggalkan wanitamu,  tak ingin aku menyia-nyiakan limpahan pahala yang tergelar dihadapannya, tak ingin aku membuatmu menangis dan murka karena aku melupakannya. Kalian masih lah yang tercinta, takkan terganti.

Lalu, yang bisa kulakukan hanyalah kembali berpasrah pada-Nya. Kembali berujar maaf padamu dan kembali berusaha untuk mewujudkan harapanmu dan membahagiakan wanitamu. Pak, mungkinkah orang akan berfikir bahwa aku  serakah? Terlalu mulukkah aku jika aku berharap mampu mewwujudkan impian dua orang sekaligus? Jika iya, biskah kau katakan padaku apa yang seharusnya aku lakukan?

Sungguh Pak, aku butuh Bapak untuk memberiku sedikit petunjuk. Aku butuh Bapak untuk menenangkanku dan menunjukkanku apa yang bisa aku lakukan. Jikalau kau hanya mampu terdiam, setidaknya, peluk aku dan katakan: "semua akan baik-baik saja, Nak. Jalani semuanya dengan semestinya. inilah proses, Sayang." lalu tersenyum padaku. Dan itu sudah melebihi dari cukup.

Pak...sepertinya terlalu banyak yang sudah kuceritakan. Mungkin nanti kita sambung lagi yaaa...

Love you, Pak
 



Selasa, 29 Oktober 2013

THEY MEAN A LOT TO ME!



Mungkin selama ini aku kurang bersyukur dalam hidup hingga aku selalu merasa tidak bahagia dan tersiksa. Aku merasa sendiri, aku merasa sepi. Aku melupakan bahwa selalu ada tangan yang terulur untuk memelukku dikala apapun dalam hidupku. Mungkin aku terlalu congkak dan berfikir bahwa aku sanggup hidup tanpa mereka. Padahal seluruh dunia tahu bahwa AKU RAPUH! Lalu salahkah aku jika aku berfikir tak ingin membebani mereka dengan masalah-masalah sepele ku sedangkan aku tahu mereka pun memiliki masalah yang jauh lebih besar yang menjadi beban mereka juga?


Namun, mereka  semua yang mengulurkan tangan-tangannya untuk memelukku adalah orang-orang dengan jiwa yang melebihi luasnya samudera, luasnya tak berujung hingga aku selalu terpesona pada mereka. Aku sungguh beruntung mengenal mereka. Mereka hadiah dari-Nya untukku.


Bunda & I (we were sad but we smiled because we were together)

Ada Bunda, begitu aku biasa memanggilnya, yang selalu bisa membuatku tersenyum. Bunda selalu bisa membuatku lupa akan beratnya beban masalahku ketika kami saling berbagi cerita. Saling menasehati, saling mengingatkan dan akhirnya tersenyum bersama karena kami lega telah berbagi meski masalah itu tetap ada di pundak kami. Bunda yang meski sibuk tapi tetap ada ketika aku ingin melepaskan sejenak penat yang ada. Meski kadang kami tak memegang sepeserpun uang dan tak bisa kemana-mana, hanya dengan berbaring bersama dikamar Bunda  sudah bisa menjadi obat stress yang mujarab untukku. Thank you, Bunda for always being here with me. Love you, yesterday, today and tomorrow, as usual.


MaySyifa - love them so much
Ada mereka berdua yang jaraknya 105 km dariku tapi tetap tak  menghalangi rasa yang tumbuh untuk mereka. Mbak Maya a.k.a Mimay yang selalu tersenyum meski aku tahu bahwa beban yang ada di pundaknya jauh, jauh lebih besar dari beban kecilku ini. Dari Mbak dan  Syifa, Lina belajar untuk tegar. “Makasih Mbak, karena selalu menyiapkan telinga dan waktu Mbak untuk mendengarkan cerita tak bermutu Lina. Maafin Lina, karena Lina kadang terlalu egois hingga sering tak peka bahwa Mbak pun sedang memikul beban berat yang Lina pun tak sanggup berbuat apapun meski hanya untuk sekedar menguranginya sedikiiiiit saja. Dan juga Sang Ratu, anak juara yang sholehah! :) Tante selalu kangen Syifa. Baik-baik ya sayaang sama ummi… Semoga Allah segera mengirimkan penjaga buat kalian berdua. SemogaAllah segera mempertemukan Mbak dengan seseorang yang kelak akan menggenggam tangan Mbak dan Syifa dengan erat, dan bersama berjalan menuju surga-Nya. Seseorang yang tidak hanya membahagiakan Mbak dan Syifa tetapi juga yang menyanyangi, bertanggung jawab, menerima kalian apa adanya dan menjaga kalian sepenuh jiwanya. Semoga segera. Aamiin”


Saudara-saudaraku yang kutemui dikala aku harus beradaptasi ditempat asing dan dalam keadaan terburukku: eLCi! Ada Mbak Trise, Mbak Cica, Okky, Aya (Mama John dan John), Atik, dan Ester! Thanks, Gals! Cause you’ve let me be your friends till this time. You’ve completed me and my life.

   

Our 2nd year in Wonosalam-Jombang (Baksos FBS)
Meski sekarang kita sibuk dengan urusan masing-masing dan jarang sekali berkumpul bersama (lengkap) seperti foto diatas tapi percayalah, bertemu dan berkumpul bersama kalian beberapa jam saja bisa menjadi amunisi semangat untuk beberapa bulan kedepan. Kalian mampu menyuntikkan semangat yang luar biasa. Mungkin karena perjuangan dan suka duka kita selama 4 tahun kuliah yang membuat kita selalu bisa tersenyum dalam keadaan apapun! “Ayuuukkkk makan nasi bungkus lagi dan duduk selonjor dilantai dengan dipandangi puluhan mata mahasiswa kaya dan dosen dengan pandangan: cewek-cewek aneh dan gila yang ga bisa  jaim!”


Bu Ica (waktu hamil Abi) & I
Cia, Cici and I (BNS GeJe)
Dan orang-orang yang selalu bersamaku setiap hari, yang bahkan tanpa perlu ku ungkapkan akan tahu kondisiku hari itu. Orang-orang yang selalu saling mengingatkan dan menguatkan dibawah tekanan tirani uang! Orang-orang yang selalu berhasil membuatku melepaskan penat lewat air mata. Terima kasih banyak. Kalian bukan sekedar partner kerja buatku, kalian adalah salah satu alasan yang membuatku bertahan berada di tempat itu. Kalian adalah orang-orang hebat! Buat Cia a.k.a Bu Dian T. a.k.a Bu Yuni a.k.a Bu Nunik, guru BK terkece, tergila, teraneh  yang pernah aku kenal. Terima kasih untuk selalu membuka pintu BK lebar-lebar buatku sejak awal aku bergabung dengan kalian. Semoga selalu diberi keberkahan hidup dan kebahagiaan untuk keluarga barunya. Buat Cici a.k.a Bu  Farikha yang-namanya-selalu-salah-dan-ditulis-Faricha a.k.a Bu Fafa guru-kesayangan-Nyonya-yang-sedang-dalam-masa-pengkaderan-dan-lebih-sering-galau-sekarang, terima kasih yaaaa  karena selalu menemani lembur, selalu memijatku ketika lagi masuk angin, yang selalu mengingatkan bahwa yang terpenting itu perubahan yang lebih baik saat ini, dan selalu memberi kemudahan dalam hal administrasi sekolah. Terima kasih yaaaa Ci… Semoga Allah segera mempertemukan dengan yang terbaik buat Cici. Biar tidak  galau terus! :p dan untuk Bu Ica a.k.a Bu Khoiro yang-selalu-mengingatkan-kalau-menulis-namanya-tidak-pakai-H-diakhir. Terima kasih yaaaa sudah mau berteman denganku yang sulit diatur dan selalu bisa “meledak” sewaktu-waktu ini… Thank you for giving me some materials freely and telling me about anything in teaching and life. Terima kasih karena tidak terus-terusan jutek ke aku yang cerewet dan tidak bisa diam ini. Semoga Bu Ica dan keluarga selalu menjadi keluarga yang samara yang selalu dilimpahi rezeki dan keberkahan hidup dan semoga jagoan-jagoannya menjadi jagoan yang sholeh.Kepada kalian semua: TERIMA KASIH dan MAAF karena selama ini Lina selalu merepotkan kalian. Terima kasih atas uluran tangan yang tak pernah lelah memeluk Lina. TERIMA KASIH... THANK YOU... ARIGATOU... GUMAWO... SYUKRON... XIE XIE... DANKE... MERCI... GRACIAs... OBRIGADA...

SIAPKAH KITA?



Ternyata aku melupakan sesuatu yang begitu penting ketika aku mulai membuka hati untuk yang lain. Aku lupa untuk MEMPERSIAPKAN DIRI! Aku lupa mempersiapkan diriku untuk rasa sakit dan rasa bahagia. Aku lupa untuk mempersiapkan diri menerima jawaban YA dan TIDAK. Aku lupa mempersiapkan diri untuk proses yang akan BERLANJUT atau BERHENTI! Aku MELUPAKAN itu semua! 

Bukannya  dulu aku pernah menulis bahwa ketika kita telah memutuskan memberikan hati pada yang lain maka kita harus siap dengan dua hal yang mungkin saja selalu bergandengan? Entah kenapa aku bisa melupakannya.

Ketika aku siap membuka hati, maka seharusnya aku mempersiapkan diri untuk menerima atau menolak. Jika kita telah membuka hati, entah cepat atau lambat akan segera datang orang yang ingin masuk atau hanya sekedar mengetuk pintu kita. Jika ia ingin masuk maka siapkah kita menerima orang itu berada dalam hati kita atau kita hanya akan membiarkannya berada di luar dan kemudian perlahan menjauh?

Kalau kita menolak kehadiran mereka, siapkah kita merasa kesepian lagi dalam penantian kita atau kita malah semakin bahagia karena merasa terbebas dari sesuatu yang membuat kita tidak nyaman? Lalu jika kita menerima dia dalam hidup kita, siapkah kita untuk kecewa atau malah bersyukur dalam perjalanan selanjutnya?

Jika kita kelak kecewa, siapkah kita untuk terus bertahan bersamanya, atau malah berhenti di separuh perjalanan dan kembali memutar haluan ke awal? Kalo kita memilih bertahan, sanggupkah kita kembali bergumul dengan luka lalu kita akan mati perlahan atau kita bertahan hingga akhirnya kita bahagia karena akhirnya dia bisa berubah? Sedangkan kalo kita memilih berhenti di separuh perjalanan, mampukah kita mengobati luka dan mencari yang baru atau kita malah terpuruk tanpa bisa bangkit lagi? Jika kita bersyukur, maka siapkan dirimu untuk nikmat yang lebih besar lagi atau kamu akan menjadi semakin kufur karena merasa memiliki segalanya!

Semuanya memiliki dua sisi. Semuanya adalah pilihan. Dan aku lupa bahwa aku bisa saja jatuh cinta dan merasa sakit atau jatuh cinta tapi bahagia. Jika ada istilah membina dan membangun cinta bisa jadi kita bahagia (karena kita tidak jatuh!), bukankah masih ada pilihan bahwa cinta yang kita bangun masih berpotensi roboh karena pondasi yang tidak kokoh atau karena bencana yang tak terduga?

Maka yang perlu aku lakukan selanjutnya adalah mempersiapkan diri ini dulu. Bersiap untuk sedih dan bahagia. Karena tidak pernah kita merasa bahagia tanpa kita tahu bagaimana rasa sedih itu. Pun sebaliknya sedih tak akan terasa tanpa pernah kita merasa bahagia.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Untuk kalian, Malika dan Tania

Bersama kalian aku merasa ada...
Bukan sekedar raga tanpa makna...
Tapi lebih dari sekedar nyawa...

Bersama kalian selalu ada tawa...
Diantara kita selalu ada kisah...
Kisah tentang rasa dan asa...

Bersama kalian aku menemukan cinta...
Cinta tanpa kata...
Yang selalu berpendar dari setiap kata...

Bersama kalian, aku bahagia...
Tak perlu berpura-pura...
Tak perlu berdusta...

Bersama kalian, aku bahagia...

Buat Tania Kanaya

Mereka telah mengisi hari-hariku…
Memberi terang di pagiku…
Membawa mimpi pada malamku…

Mereka adalah keindahan…
Mereka itu istimewa dan aku mencintai mereka…

My Dream... Our Dream!

Standing there is my dream… Not only mine, but ours!
I’ve kept it for nine years!
I’ve fell down for several times…but never forget my dream because there is someone there who is waiting for me.
Being the best is just an extra gift for me… an extra pride for him!

Bapak: Pak, it was my promise to bring the pride for you, again. It is our dream to be there together! It’s for you!! You’re not here anymore but I know that you’re nearby and looking at me at this time, with that special way…Miss you so much! :’)

Ibu: Bu, it might be not your main dream, but thanks for being with me to reach my dream. This is also for your loves, prays, cares and other sacrifices. Thank you for standing beside me.. I’ve never said “I love you” but never doubt my love for you. I love you more than you can imagine, more than myself! :*

Perhaps, you’re not the perfect parents in the world but you’re the best parents for me. You’re nothing for this world but you’re my world, my everything because you’ve loved me perfectly! I’ll always try to give you my best because you’re the best thing that I’ve ever had!! May Allah bless you…and save you a place in heaven…
Aamiin…

-graduation note, 2011-